Tradisi Budaya Pasola; Ajang Pertarungan Ksatria Sumba

Tradisi Pasola merupakan budaya berupa permainan perang-perangan secara tradisional. Layaknya perang, terdapat dua kubu yang saling berhadapan sambil menunggang kuda layaknya perang sungguhan. Mereka juga membawa lembing atau tombak kayu dengan ujung tumpul. Tradisi budaya Pasola ini biasanya diselenggarakan di padang savanna. Ya, suasana padang savanna, gemuruh suara kaki kuda, ringkikan kuda, teriakan peserta dan juga penonton membuat Pasola ini sangat menegangkan.

Sejarah Budaya Pasola

Pasola berawal dari kata ‘sola’ atau ‘hola’ dengan arti lembing atau tombak kayu. Kemudian diberikan imbuhan ‘pa’ sehingga menjadi ‘pahola’ atau ‘pasola’. Sehingga Pasola dapat berarti permainan ketangkasan dengan menggunakan tombak kayu. Tradisi unik ini memang sudah ada dari zaman dahulu dan terus dijaga hingga sekarang. Bahkan, banyak wisatawan asing yang sangat tertarik dengan budaya masyarakat Sumba ini. Ya, sudah menjadi kebanggaan masyarakat Sumba karena mereka masih memiliki para ‘ksatria’.

Mulainya, tradisi ini lahir dari sebuah kisah percintaan seorang janda yang cantik jelita, Rabu Kaba. Sebelumnya, ia adalah istri Umbu Dula. Umbu Dula adalah salah satu dari tiga saudara pemimpin masyarakat Waiwuang. Dua lainnya bernama Yagi Waikareri dan Ngongo Tau Masusu. Singkat cerita, mereka bertiga pamit kepada warga Waiwuang dengan mengatakan akan pergi melaut. Namun, mereka ternyata pergi ke Pantai Sumba Timur guna mengambil padi.

Lama tidak terdengar kabar dari tiga saudara itu, warga memutuskan untuk membuat acara pengkabungan atas meninggalnya ketiga saudara tersebut. Rabu Kaba resmi menjadi janda dan menjalin hubungan dengan Teda Gaiparona, pemuda tampan asal Kampung Kodi. Namun, aturan adat menghalangi mereka untuk menikah hingga mereka memutuskan untuk kabur atau kawin lari.

Setelah itu, ternyata tiga saudara tersebut masih hidup dan mendapati bahwa Rabu Kaba telah dibawa kabur oleh Teda Gaiparona. Sudah pasti, perselisihan tidak bisa dihindari. Ketiganya dan seluruh penduduk Waiwuang meminta tanggungjawab Teda Gaiparona karena telah membawa lari Rabu Kaba. Kesepakatan dibuat, Teda harus mengembalikan belis atau mas kawin yang diterima oleh Rabu Kaba dari Umbu Dula. Teda sepakat dan akhirnya menikah dengan Rabu Kaba. Teda Gaiparona kemudian berpesan agar diadakan acara Pasola untuk meredam dendam kedua kampung.

Namun, dari sisi pelaksanaan Pasola itu sendiri, sebenarnya adalah bagian dari ritual kepercayaan agama Marapu (agama lokal warga Sumba). Menurut Marapu, elemen yang terpenting adalah selalu menjaga keharmonisan di antara manusia dengan nenek moyang. Itu karena nenek moyang adalah pembawa kemakmuran dan kesuburan. Permainan Pasola ini sendiri diselenggarakan sebagai puncak dari budaya Pesta Adat Nyale yang merupakan upacara adat guna memonon restu para dewa serta arwah nenek moyang dengan tujuan panen berhasil.

Waktu diselenggarakannya Pasola tergantung dari hitungan Rato atau para tetua adat dengan cara menafsirkan berbagai tanda alam termasuk juga peredaran bulan. Konon, perhitungan Rato tidak pernah meleset. Hal ini dibuktikan dengan keberadaan cacing laut (nyale) yang terlihat disetiap acara budaya Pasola ini. Jika dilihat dari kalender masehi, maka biasanya diantara bulan Februari sampai Maret. Pasola diadakan di berbagai tempat di Kab. Sumba Barat NTT.

Permainan Tradisi dan Budaya Pasola

Di dalam Pasola, setiap peserta harus mempersiapkan lembing dengan panjang 1,5 meter dan diameter 1,5 centimeter. Walau ujung tombak ini tumpul, bukan berarti tidak dapat melukai pesertanya. Bahkan, bisa sampai memakan korban jiwa. Konon, darah yang mengucur di tengah pelaksanaan budaya Pasola ini dianggap sangat bermanfaat untuk kesuburan tanah serta kesuksesan panen. Sedangkan jika ada korban jiwa, maka ia dianggap mendapat hukuman dari dewa karena ia telah melakukan sebuah pelanggaran.

Di sini, setiap peserta yang terkena lembing dan kemudian waktu ‘perang’ ini habis, mereka tidak boleh menyimpan dendam di luar Pasola. Mereka harus melampiaskannya di acara Pasola tahun depan. Ini karena tidak boleh ada dendam dari dua kubu di luar Pasola. Oleh sebab itu, biasanya akan diadakan makan bersama dari dua kubu dan masyarakat di jam istirahat ‘perang’ Pasola dengan makanan khas Sumba yaitu ketupat untuk mempersatukan semuanya.

Jadi, tradisi dan budaya Pasola ini merupakan ajang untuk bisa  bersilaturahmi atau sebagai elemen pemersatu. Ini selaras dengan asal diadakannya Pasola dimana hal itu diadakan untuk menghilangkan dendam Kampung Waiwuang dan Kodi. Memang, dibalik kesangaran dan kegagahan para ksatria Sumba di atas kuda dengan lembing yang siap dilemparkan, mereka semua akan kembali menjadi saudara saat Pasola telah usai karena murni ini sebagai tradisi bukan perang sungguhan.

Adapun, lokasi diadakannya Pasola ini adalah di empat kampung yang terletak di Kab. Sumba Barat yaitu Kampung Gaura, Kampung Wanokaka, Kampung Lamboya dan Kampung Kodi. Pelaksanaannya pun bergilir dimulai dari bulan Februari hingga berakhir di bulan Maret di tiap tahunnya bertepatan juga dengan Upacara Adat Nyale.

Tradisi dan budaya Pasola ini terus dilestarikan dan terus mendapatkan perhatian dari wisatawan seluruh Indonesia termasuk wisatawan asing yang ingin melihat suasana ‘perang’ yang hampir mirip dengan perang sungguhan dimana ada puluhan kuda di atas padang savanna dengan para ksatria yang sedang ‘berperang’.

Foto: pinterest.com

 

1 Comments

  1. Luella says:

    Which came first, the problem or the sonloitu? Luckily it doesn’t matter.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Nike Air Max Heels Outlet Online
  • Nike Lunar Flyknit Chukka Outlet Online
  • Nike Air Max 97 Outlet Online
  • Golden Goose Italia Outlet Online
  • Nike Air Max Sandals Outlet Online

  • TOP