Budaya Makepung; Balapan Kerbau yang Unik di Bali

Bali memang menyimpan seni dan budaya yang beragam dan sangat khas. Tidak mengherankan jika selain karena keindahan alamnya yang sangat menakjubkan, kebudayaan masyarakat Bali juga menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan termasuk wisatawan asing. Bahkan, tidak sedikit dari wisatawan asing yang mempelajari budaya masyarakat Bali. Ya, tradisi dan budaya masyarakat Bali memang telah memikat hati wisatawan. Tidak terbatas pada budaya tari-tarian saja, bahkan budaya seperti Makepung juga menjadi daya terik tersendiri.

Budaya Makepung; Balapan Kerbau (Bull Race)

Berada di Bali Barat, tepatnya di Kabupaten Jembrana, terdapat tradisi budaya yang sangat unik yang berbeda dari budaya Bali pada umumnya. Tradisi unik ini bernama Makepung atau balapan kerbau dan wisatawan asing menyebutnya bull race. Di tempat lain, di Buleleng, tradisi ini dikenal dengan Gerumbungan, di Madura bernama Karapan Sapi. Berbeda dengan yang lainnya yang menggunakan sapi, Makepung ini menggunakan sepasang kerbau.

Sepasang kerbau akan diikat dan dinaiki oleh seorang joki. Joki ini yang mengendalikan laju dari kerbau. Makepung biasanya diadakan setiap tahun tepatnya di bulan Juli hingga November. Pacuan kerbau ini diadakan tepat di setiap panen raya. Karena diadakan secara rutin, para petani selalu memilih kerbau unggulan mereka. Jadi, selain digunakan untuk membajak, kerbau-kerbau ini juga digunakan untuk balapan. Sudah pasti, acara tahunan ini selalu mendapat sambutan meriah dari warga lokal hingga wisatawan domestik dan mancanegara.

Makepung sendiri merupakan bahasa Bali yang berarti berkejar-kejaran. Tradisi dan budaya unik ini sudah ada di Kabupaten Jembrana sejak tahun 1930-an. Awalnya, dimulai pada saat para petani sedang santai dan istirahat usai bergotong royong membajak sawah mereka, kemudian secara iseng mereka mengadu kerbau mereka untuk berpacu dan menarik bajak di sawah penuh lumpur. Teman-teman lain yang melihatnya tertarik dan mulai mengikutinya.

Lambat laun, ternyata banyak yang tertarik dengan acara Makepung ini terus berkembang. Tahun 1960-an, kemudian Makepung ini tidak lagi diadakan di areal persawahan namun sudah tidak berlumpur lagi. Kerbaupun diberikan berbagai hiasan agar terlihat lebih unik, gagah dan mempesona. Setelah itu, kerbau pun dipilih secara selektif hingga kerbau diberikan perawatan yang spesial. Bahkan, yang tadinya cuma iseng kemudian berubah menjadi perlombaan rutin yang diadakan setiap tahun.

Bahkan, budaya Makepung ini tidak hanya para petani saja yang mengikutinya melainkan juga pengusaha, pegawai dan lainnya yang datang dari kota. Selain itu, pengelolaan perlombaan juga semakin profesional. Sebagai contoh, acara Makepung ini diadakan secara besar-besaran seperti diadakannya Gubernur Cup untuk Makepung yang dihadiri lebih dari 300 pasang kerbau yang siap bertanding.

Makepung semakin semarak karena dimeriahkan juga oleh para pemusik jegog atau gamelan khas bali yang dibuat dari bambu. Sudah bisa dipastikan jika semua perkembangan dan perubahan Makepung ini menjadi daya tarik wisawatan sehingga diadakan secara rutin dan besar. Berbeda dengan awalnya dimana perlombaan dulu di tahun 1970-an, aturan dan kelengkapan Makepung sangat sederhana, kini aturannya juga mengalami berbagai perubahan. Sebagai contoh, yang tadinya hanya dengan 1 kerbau, kini harus dengan 2 kerbau. Cikar atau gerobak juga dibuat lebih kecil.

Makepung Yang Sangat Meriah

Kemeriahan Makepung ini bisa dilihat dari awal dimana terlihat kerbau-kerbau dengan cikar mereka yang diberi berbagai hiasan dan mahkota berwarna warni. Nantinya, mereka akan melewati trak tanah dengan bentuk huruf U dengan panjang 1 – 2 km. Tentunya, para joki harus memiliki nyali yang besar karena bisa saja ia terhempas dan terjatuh. Dibutuhkan latihan yang serius untuk bisa mengendalikan kerbau-kerbau yang perkasa.

Sebelum dimulainya budaya Makepung ini, diadakan ritual yang dimaksudkan untuk mengurangi hal yang tidak diinginkan dan berharap semua lancar. Mungkin, hal yang mengerikan terlihat ketika joki memecut atau mencambuk kerbau saat sedang balapan. Itu karena cambuk yang digunakan merupakan cambuk dengan paku. Memang terlihat sangat ekstrem namun, konon proses penyembuhan dengan cambuk paku ini lebih cepat dibandingkan dengan cambuk biasa.

Tidak mengherankan jika saat sedang balapan kerbau dipenuhi dengan lecet dan darah. Bahkan, bercak darah juga dapat dilihat di track yang digunakan untuk pacuan ini. Anak-anak memang tidak disarankan untuk melihatnya. Kendati demikian, menurut warga lokal, walaupun terlihat kerbaunya berdarah, ini merupakan sebuah tradisi yang harus tetap dilangsungkan. Selain itu, dengan ramuan tradisional, luka kerbau dari cambuk paku itu akan sembuh dalam waktu yang cepat.

Hal yang sangat unik terlihat dari aturan tradisi dan budaya Bull Race ini. Jika biasanya perlombaan balap itu dimenangkan oleh mereka yang ada di barisan terdepan, Makepung ini memiliki aturan yang sedikit berbeda. Peserta terdepan tidak hanya harus mencapai finish duluan tapi ia juga harus menjaga jarak dengan peserta lain yang ada di belakang hingga 10 meter. Jika peserta kedua bisa menjaga jarak kurang dari 10 meter, walau peserta terdepan mencapai garis finish duluan, maka peserta kedua itulah yang menjadi pemenangnya.

Ya, Makepung memang sudah selayaknya terus dilestarikan. Namun, bisa jadi ada solusi lain selain menggunakan cambuk dengan paku itu. Jika Anda penyayang binatang, budaya Makepung ini bisa jadi kurang pas untuk Anda lihat secara langsung terutama saat sedang melihat balapannya.

Pemilik Foto : infobudayaindonesia.com

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Nike Air Max Heels Outlet Online
  • Nike Lunar Flyknit Chukka Outlet Online
  • Nike Air Max 97 Outlet Online
  • Golden Goose Italia Outlet Online
  • Nike Air Max Sandals Outlet Online

  • TOP